Epistemologi filsafat pendidikan+daftar pustaka
Epistemologi Filsafat Pendidikan
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Muto'in
Disusun oleh:
Muhammad Hafidzudin (2117275)
Kelas: G
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada dua dimensi dalam kajian filsafat pendidikan Islam yaitu dimensi makro dan dimensi mikro, adapun dimensi makro filsafat pendidikan Islam ini diantaranya membahas tentang epistemologi.
Ilmu merupakan pengetahuan pengetahuan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Pengetahuan mempunyai berbagai cabang pengetahuan dan ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan tersebut. Karakteristik keilmuan itulah yang mencirikan hakikat keilmuan dan sekaligus membedakan ilmu dari berbagai cabang pengetahuan lainnya.
Dalam epistemologi yang paling mendasar untuk dibicarakan adalah apa yang menjadi sumber pengetahuan, bagaimana struktur pengetahuan yang dimana hal ini akan berkaitan dengan macam/jenis pengetahuan dan bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan tersebut.
Sejak mula, epistimologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentan seluas jangkauan metafisika sendiri, selain itu pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.
B. Perumusan Masalah
Dari pembahasan latar belakang yang dikemukakan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Apakah pengertian dan hakikat epistemologi?
Apa saja teori-teori ilmu pengetahuan?
Bagaimanakah pendekatan dan metode memperoleh ilmu pengetahuan?
C. Tujuan
1. mengerti hakikat epstemologi
2. mengetahui teori – teori pengetahuan
3. mengetahui metode memperoleh ilmu pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Hakikat Epistemologi
Menurut Kattsoff (1992), bahwa ontologi dan epistemologi merupakan hakikat kefilsafatan, artinya keduanya membicarakan mengenai kenyataan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran. Adapun aksiologi berbicara mengenal masalah nilai-nilai atau etika dalam kaitannya dengan mencari kebahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.
Imam Wahyudi (2007) memahami, secara etimologis, epistemologi berasal dan bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi yaitu pengetahuan sistematik tentang pengetahuan. Istilah lni pertama kali dipopulerkanpleh JF. Ferier pada 1854, yang membuat dua cabang filsafat sekaligus sebagai pembeda keduanya, yakni epistemology dan ontology.
Secara bahasa (etiologi) epistemologi ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “episteme” dan “logos. Episteme berarti pengetahuan sedangkan logos berarti teori, uraian atau alasan. Jadi epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan (teori of knowledge).
Sedangkan pengertian epistemologi menurut terminologi merupakan suatu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, tsruktur, metode dan validitas pengetahuan.Selain itu epistemologi juga berarti cabang filsafat yang mempelajari soal watak, batas-batas dan berlakunya ilmu pengetahuan. Dengan menyederhanakan batasan di atas, Brameld mendefinisikan epistemologi sebagai “it is epistemology that gives the teacher the assurance that he is conveying the truth to his student”. Epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan bgai guru bahwa ia memberikan kebenaran keapda murid-muridnya.
Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari 2 kata, yaitu ilmu dan pengetahuan. Adapun ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari sedangkan pengetahuan merupakan hubungan objek dengan subjek, sehingga dalam epistemologi terdapat pokok-pokok tentu yang menjadi objek epistemologi sendiri sebagai suatu manifestasi dari penyelidikan.
Dengan demikian epistemologi atau teori tentang ilmu pengetahuan adalah inti sentral setiap pandangan dunia, seperti yang disebutkan dalam hadits :
مَنْ اَرَدَا الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ اْلآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa menginginkan dunia maka hanya memiliki ilmu, barangsiapa menginginkan akhirat maka harus mempunyai ilmu pula, dan barangsiapa menginginkan kedua-duanya maka harus mempunyai ilmu.”
Dalam konteks Islam, ilmu merupakan parameter yang bisa menetapkan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya. Firman Allah menyebutkan: فَاسْألُو . . .
Pada hakikatnya apakah ada hukum-hukum ilmu pengetahuan yang memberikan pedoman kepada kita untuk percaya atau tidak percaya tentang sesuatu, kemudian bagaimana seharusnya sikap kita untuk dapat mengerti kebenaran berupa pendapat, intuisi, kepercayaan, fakta-fakta, yang ada di dalam lingkungan kita.
Secara historis gerakan pemikiran reflektif yang memuncak didalam munculnya masalah pengetahuan secara terpisah dapat ditelusuri secara analisis pada tahap awal dari tahap historis dan analitis merupakan keadaan dimana anggapan umum (common sense) menemukan dirinya. Orang pada umumnya menyadari diri memiliki sejumlah pengetahuan yang dianggapnya pasti dan tidak boleh dianggap remeh.
Disinilah epistemologi bukan hanya mungkin tetapi mutlak perlu suatu pikiran yang telah mencapai tingkat refleksi tidak dapat dipuaskan dengan kembali kepada jaminan-jaminan anggapan umum, tetapi justru semakin mendesak maju ke tingkat yang baru. Setiap anggapan umum dapat dijadikan pertanyaan reflektif. Epistemologi adalah mencari suatu kepastian yang dimungkinkan oleh suatu keraguan, maka dengan adanya seperti ini epistemologi berperan sebagai obatnya. Apabila epistemologi berhasil mengobati untuk mengusir keraguan ini, kita mungkin menemukan kepastian reflektif yang lebih pantas dianggap sebagai pengetahuan.
B. Teori-Teori Ilmu Pengetahuan
Teori pengetahuan adalah ways of knowing (cara-cara mengetahui) dengan perkataan lain bagaimana sesungguhnya proses manusia mengetahui sesuatu.
Menurut Brucher ada beberapa teori pengetahuan sebagai berikut:
1. Teori Pengetahuan Menurut Correspondence
Pada teori ini proses mengetahui adalah proses partisipasi langsung oleh peserta didik terhadap realita objek secara wajar melalui studi. Sebab realita objek itu selalu mewujud didalam sejumlah aspek-aspek perwujudan yang dapat dimengerti. Mengetahui suatu objek adalah dengan mengenal sifat-sifat esensial objek tersebut dan bukan mengenal aspek-aspek non esensial objek itu.
2. Teori Pengetahuan menurut Consistency
Teori pengetahuan ini didapat oleh seseorang dari luar melalui panca indera, tetapi kesan-kesan yang ditangkap oleh panca indera bukanlah realitas yang ditangkap langsung secara objektif, sebab seseorang tidak akan mampu menangkap realitas objektif secara hakiki.
3. Teori Pengetahuan Menurut Intuisi
Cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pengalaman intuisi atau pengalaman mistik. Validitas pengetahuan intuitif ini sangat bersifat pribadi dan merupakan validitas pengetahuan keunikan individu. Pada toeri pengetahuan menurut intuitif ini masih terdapat kelemahan didalamnya.
4. Teori Pengetahuan Menurut Pragmatisme
Teori pengetahuan menurut pragmatisme adalah kemampuan seseorang didalammemcahkan problema-problema kehidupan secara aktif dengan segala kemampuan, pertimbangan, sikap kritis, analisis dan tindakan-tindakan secara nyata.
5. Teori Pengetahuan Menurut Authorithy
Pengetahuan yang didapat oleh seseorang melalui pendapat orang lain yang didasarkan kepada penelitian dan pembuktian secara ilmiah. Bahkan untuk memperkuat pendapatnya seseorang menunjuk (mengutip) pendapat orang lain yang dianggapnya lebih kuat karena didasarkan pada sumber yang bersifat otoritas seperti buku-buku loterature, ensiklopedia, kitab suci, pikiran-pikiran (pendapat) para ahli dalam bidang tertentu.
C. Metode Untuk Memperoleh Ilmu Penetahuan
Ada beberapa metode yang populer dan dijadikan rujukan dalam memperoleh sumber pengetahuan dalam epistemologi pengetahuan, sebagaimana dikemukakan Imam Wahyudi (2007) sebagai berikut:
1. Metode Empirisme
Empirisme yaitu suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman indriawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil pengindraan itu. Ini berarti semua pengetahuan kita, betapa pun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman indriawi yang pertama-tama dapat diibaratkan sebagai atom yang menyusun objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
2. Metode Rasionalisme
Rasionalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber pengetahuan yang berlandaskan pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. melainkan pengalaman paiing-paling dipandang sebagai seienis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasio. nalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam dan barang sesuatu. jika kebenaran mengandung makna dan mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi.
3. Metode Fenomenalisme
Fenomenalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggali pengalaman dari dalam dirinya sendiri. Tokoh yang terkenal dalam metode ini ialah lmmanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri, dengan merangsang alat indriawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, tetapi hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya pengetahuan tentang gejala (phenomenon). Bagi Kant, para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman, meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
4. Metode Intuisionisme
Intuisionisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggunakan sarana intuisi untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah Bergson. Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme menurut Bergson, dimungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indra.
Dengan demikian, data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh pengindraan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Ada yang khas dari aliran ini, dia tidak mengingkari nilai pengalaman indriawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intuisionisme dalam beberapa bentuk hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap diperoleh melalui intuisi, sebagai lawan dan pengetahuan yang nisbi yang meliputi sebagian saja yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indra hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dan apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaan senyatanya.
D. Pendekatan Dalam Memperoleh Ilmu Pengetahuan
Banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam perolehan ilmu pengetahuan, dan setiap pendekatan itu mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kekurangan yang ada tergantung kepada subjek yang menggunakannya. Adapun pendekatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan antara lain:
Skpetisme
Bagi aliran ini tidak ada suatu cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mengingat kemampuan panca indra dan akal manusia terbatas. Keberatan yang biasanya diajukan pad atahap ini adalah bahwa didalam pelaksanannya epistemologi dianggap mengusulkan suatu tujuan khayal bagi dirinya sendiri.
Maka, beberapa pemikir seperti Etienne Gilson beranggapan bahwa tidak ada masalah mengenai pengetahuan, sebab pertanyaan kritis tidak dapat diajukan secara konsisten. Bagi mereka realisme adalah suatu pengandaian pemikiran yang bersifat absolut, dan setiap usaha untuk membenarkan realisme telah memberi konsesi atau menyerah.
Meskipun sanggahan terhadap skeptisisme cenderung bernada negatif, tetapi mempunyai akibat positif. Sebab apa yang dinyatakan oleh pendapat Gilson ialah : pada tahap tertentu pikiran secara niscya melekat pada ada sedemikian rupa, sehingga kelekatan ini tidak dapat disangkal. Maka kita sampai kepada nilai tanpa syarat dari pernyataan bila kita menyadari bahwa tidak mungkinlah menyatakan ketidakmampuan kita untuk menyatakan.
Relativisme protagoras mungkin merupakan pendapat skeptik yang paling ekstem. Doktrin “homo mesura”-nya (manusia adalah ukuran bagi segalanya) merupakan usah untuk membatasi semua pernyataan kepada orang yang membuatnya sebagaimana apa yang terasa enak bagi seseorang tidak tentu enak bagi yang lain. Katanya, demikian juga mengenai apa yang benar bagi yang lain.
Aliran keraguan (Academy Doubt)
Suatu aliran yang dalam perolehan ilmu pengetahuan berpangkal dari keraguan sebagai jembatan perantara menuju kepada kepastian.
Empirisme
Cara pencarian ilmu pengetahuan melalui panca indra, karena indra tersebut yang menjadi instrumen untuk menghubungkan ke alam.
Rasionalisme
Suatu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan akal pikiran, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.
Aliran yang menggabungkan pendekatan empiris dan rasionalisme
Menurut aliran ini cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu melalui pengertian dan pengindraan, karena pengertian tidak dapat melihat dan indra tidak dapat berpikir, sehingga rasio dan indra perlu disatukan.
Intuisi
Suatu pendekatan dalam memperoleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan daya jiwa.
Wahyu
Pendekatan ini bersifat metafisik dan bercirikan transendental. Pendekatan ini harus didasari oleh kepercayaan (iman). Kepercayaan tersebut adalah apabila akal tidak mampu mengungkapkan sesuatu, akal tersebut tidak perlu dibahas dan diperdebatkan, wahyu berarti isyarat yang cepat yang diperoleh seseorang di dalam dirinya serta diyakininya.
Dalam pandangan filsafat pendidikan Islam metode memperoleh ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:
Kasbi (khusuli)
Kasbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan.
Laduni (khudluri)
Laduni adalah ilmu yang diperoleh oleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan atau oleh hadirnya cahaya ilahi ke dalam kalbu seseorang.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam dunia pendidikan dianggap sebagai proses penyerahan kebudayaan umumnya dan khususnya ilmu pengetahuan, maka dari itu epistemologi dalam dunia pendidikan adalah memberikan suatu kebenaran yang jelas, sehingga terjamin kebenaran dan percaya apa yang disampaikan oleh seorang guru yang didasarkan pada fakta-fakta yang ada dalam lingkungan kita.
Filsafat pengetahuan merupakan usaha untuk membiarkan pikiran untuk mencapai pengenalan dan esensinya, usaha pikiran untuk mengekspresikan dan menunjukkan kepada dirinya sendiri atas epistemologi berhubungan dengan dasar pertimbangan kodrat, jangkauan dan asal dari evidensi.
Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia ini dan untuk memperolehnya perlu dilakukan usaha dan kerja keras. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia ia akan dapat mengenal adanya Tuhan.
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Muto'in
Disusun oleh:
Muhammad Hafidzudin (2117275)
Kelas: G
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada dua dimensi dalam kajian filsafat pendidikan Islam yaitu dimensi makro dan dimensi mikro, adapun dimensi makro filsafat pendidikan Islam ini diantaranya membahas tentang epistemologi.
Ilmu merupakan pengetahuan pengetahuan yang mempunyai karakteristik tersendiri. Pengetahuan mempunyai berbagai cabang pengetahuan dan ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan tersebut. Karakteristik keilmuan itulah yang mencirikan hakikat keilmuan dan sekaligus membedakan ilmu dari berbagai cabang pengetahuan lainnya.
Dalam epistemologi yang paling mendasar untuk dibicarakan adalah apa yang menjadi sumber pengetahuan, bagaimana struktur pengetahuan yang dimana hal ini akan berkaitan dengan macam/jenis pengetahuan dan bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan tersebut.
Sejak mula, epistimologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentan seluas jangkauan metafisika sendiri, selain itu pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.
B. Perumusan Masalah
Dari pembahasan latar belakang yang dikemukakan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
Apakah pengertian dan hakikat epistemologi?
Apa saja teori-teori ilmu pengetahuan?
Bagaimanakah pendekatan dan metode memperoleh ilmu pengetahuan?
C. Tujuan
1. mengerti hakikat epstemologi
2. mengetahui teori – teori pengetahuan
3. mengetahui metode memperoleh ilmu pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Hakikat Epistemologi
Menurut Kattsoff (1992), bahwa ontologi dan epistemologi merupakan hakikat kefilsafatan, artinya keduanya membicarakan mengenai kenyataan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran. Adapun aksiologi berbicara mengenal masalah nilai-nilai atau etika dalam kaitannya dengan mencari kebahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.
Imam Wahyudi (2007) memahami, secara etimologis, epistemologi berasal dan bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untuk menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi yaitu pengetahuan sistematik tentang pengetahuan. Istilah lni pertama kali dipopulerkanpleh JF. Ferier pada 1854, yang membuat dua cabang filsafat sekaligus sebagai pembeda keduanya, yakni epistemology dan ontology.
Secara bahasa (etiologi) epistemologi ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “episteme” dan “logos. Episteme berarti pengetahuan sedangkan logos berarti teori, uraian atau alasan. Jadi epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan (teori of knowledge).
Sedangkan pengertian epistemologi menurut terminologi merupakan suatu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, tsruktur, metode dan validitas pengetahuan.Selain itu epistemologi juga berarti cabang filsafat yang mempelajari soal watak, batas-batas dan berlakunya ilmu pengetahuan. Dengan menyederhanakan batasan di atas, Brameld mendefinisikan epistemologi sebagai “it is epistemology that gives the teacher the assurance that he is conveying the truth to his student”. Epistemologi memberikan kepercayaan dan jaminan bgai guru bahwa ia memberikan kebenaran keapda murid-muridnya.
Istilah ilmu pengetahuan terdiri dari 2 kata, yaitu ilmu dan pengetahuan. Adapun ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang sesuatu yang sedang dipelajari sedangkan pengetahuan merupakan hubungan objek dengan subjek, sehingga dalam epistemologi terdapat pokok-pokok tentu yang menjadi objek epistemologi sendiri sebagai suatu manifestasi dari penyelidikan.
Dengan demikian epistemologi atau teori tentang ilmu pengetahuan adalah inti sentral setiap pandangan dunia, seperti yang disebutkan dalam hadits :
مَنْ اَرَدَا الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ اْلآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa menginginkan dunia maka hanya memiliki ilmu, barangsiapa menginginkan akhirat maka harus mempunyai ilmu pula, dan barangsiapa menginginkan kedua-duanya maka harus mempunyai ilmu.”
Dalam konteks Islam, ilmu merupakan parameter yang bisa menetapkan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya. Firman Allah menyebutkan: فَاسْألُو . . .
Pada hakikatnya apakah ada hukum-hukum ilmu pengetahuan yang memberikan pedoman kepada kita untuk percaya atau tidak percaya tentang sesuatu, kemudian bagaimana seharusnya sikap kita untuk dapat mengerti kebenaran berupa pendapat, intuisi, kepercayaan, fakta-fakta, yang ada di dalam lingkungan kita.
Secara historis gerakan pemikiran reflektif yang memuncak didalam munculnya masalah pengetahuan secara terpisah dapat ditelusuri secara analisis pada tahap awal dari tahap historis dan analitis merupakan keadaan dimana anggapan umum (common sense) menemukan dirinya. Orang pada umumnya menyadari diri memiliki sejumlah pengetahuan yang dianggapnya pasti dan tidak boleh dianggap remeh.
Disinilah epistemologi bukan hanya mungkin tetapi mutlak perlu suatu pikiran yang telah mencapai tingkat refleksi tidak dapat dipuaskan dengan kembali kepada jaminan-jaminan anggapan umum, tetapi justru semakin mendesak maju ke tingkat yang baru. Setiap anggapan umum dapat dijadikan pertanyaan reflektif. Epistemologi adalah mencari suatu kepastian yang dimungkinkan oleh suatu keraguan, maka dengan adanya seperti ini epistemologi berperan sebagai obatnya. Apabila epistemologi berhasil mengobati untuk mengusir keraguan ini, kita mungkin menemukan kepastian reflektif yang lebih pantas dianggap sebagai pengetahuan.
B. Teori-Teori Ilmu Pengetahuan
Teori pengetahuan adalah ways of knowing (cara-cara mengetahui) dengan perkataan lain bagaimana sesungguhnya proses manusia mengetahui sesuatu.
Menurut Brucher ada beberapa teori pengetahuan sebagai berikut:
1. Teori Pengetahuan Menurut Correspondence
Pada teori ini proses mengetahui adalah proses partisipasi langsung oleh peserta didik terhadap realita objek secara wajar melalui studi. Sebab realita objek itu selalu mewujud didalam sejumlah aspek-aspek perwujudan yang dapat dimengerti. Mengetahui suatu objek adalah dengan mengenal sifat-sifat esensial objek tersebut dan bukan mengenal aspek-aspek non esensial objek itu.
2. Teori Pengetahuan menurut Consistency
Teori pengetahuan ini didapat oleh seseorang dari luar melalui panca indera, tetapi kesan-kesan yang ditangkap oleh panca indera bukanlah realitas yang ditangkap langsung secara objektif, sebab seseorang tidak akan mampu menangkap realitas objektif secara hakiki.
3. Teori Pengetahuan Menurut Intuisi
Cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pengalaman intuisi atau pengalaman mistik. Validitas pengetahuan intuitif ini sangat bersifat pribadi dan merupakan validitas pengetahuan keunikan individu. Pada toeri pengetahuan menurut intuitif ini masih terdapat kelemahan didalamnya.
4. Teori Pengetahuan Menurut Pragmatisme
Teori pengetahuan menurut pragmatisme adalah kemampuan seseorang didalammemcahkan problema-problema kehidupan secara aktif dengan segala kemampuan, pertimbangan, sikap kritis, analisis dan tindakan-tindakan secara nyata.
5. Teori Pengetahuan Menurut Authorithy
Pengetahuan yang didapat oleh seseorang melalui pendapat orang lain yang didasarkan kepada penelitian dan pembuktian secara ilmiah. Bahkan untuk memperkuat pendapatnya seseorang menunjuk (mengutip) pendapat orang lain yang dianggapnya lebih kuat karena didasarkan pada sumber yang bersifat otoritas seperti buku-buku loterature, ensiklopedia, kitab suci, pikiran-pikiran (pendapat) para ahli dalam bidang tertentu.
C. Metode Untuk Memperoleh Ilmu Penetahuan
Ada beberapa metode yang populer dan dijadikan rujukan dalam memperoleh sumber pengetahuan dalam epistemologi pengetahuan, sebagaimana dikemukakan Imam Wahyudi (2007) sebagai berikut:
1. Metode Empirisme
Empirisme yaitu suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman indriawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil pengindraan itu. Ini berarti semua pengetahuan kita, betapa pun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman indriawi yang pertama-tama dapat diibaratkan sebagai atom yang menyusun objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
2. Metode Rasionalisme
Rasionalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber pengetahuan yang berlandaskan pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. melainkan pengalaman paiing-paling dipandang sebagai seienis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasio. nalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam dan barang sesuatu. jika kebenaran mengandung makna dan mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi.
3. Metode Fenomenalisme
Fenomenalisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggali pengalaman dari dalam dirinya sendiri. Tokoh yang terkenal dalam metode ini ialah lmmanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri, dengan merangsang alat indriawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri, tetapi hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya pengetahuan tentang gejala (phenomenon). Bagi Kant, para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman, meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
4. Metode Intuisionisme
Intuisionisme yaitu satu cara atau metode dalam memperoleh sumber ilmu pengetahuan dengan menggunakan sarana intuisi untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini ialah Bergson. Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme menurut Bergson, dimungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indra.
Dengan demikian, data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh pengindraan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Ada yang khas dari aliran ini, dia tidak mengingkari nilai pengalaman indriawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intuisionisme dalam beberapa bentuk hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap diperoleh melalui intuisi, sebagai lawan dan pengetahuan yang nisbi yang meliputi sebagian saja yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indra hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dan apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaan senyatanya.
D. Pendekatan Dalam Memperoleh Ilmu Pengetahuan
Banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam perolehan ilmu pengetahuan, dan setiap pendekatan itu mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kekurangan yang ada tergantung kepada subjek yang menggunakannya. Adapun pendekatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan antara lain:
Skpetisme
Bagi aliran ini tidak ada suatu cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mengingat kemampuan panca indra dan akal manusia terbatas. Keberatan yang biasanya diajukan pad atahap ini adalah bahwa didalam pelaksanannya epistemologi dianggap mengusulkan suatu tujuan khayal bagi dirinya sendiri.
Maka, beberapa pemikir seperti Etienne Gilson beranggapan bahwa tidak ada masalah mengenai pengetahuan, sebab pertanyaan kritis tidak dapat diajukan secara konsisten. Bagi mereka realisme adalah suatu pengandaian pemikiran yang bersifat absolut, dan setiap usaha untuk membenarkan realisme telah memberi konsesi atau menyerah.
Meskipun sanggahan terhadap skeptisisme cenderung bernada negatif, tetapi mempunyai akibat positif. Sebab apa yang dinyatakan oleh pendapat Gilson ialah : pada tahap tertentu pikiran secara niscya melekat pada ada sedemikian rupa, sehingga kelekatan ini tidak dapat disangkal. Maka kita sampai kepada nilai tanpa syarat dari pernyataan bila kita menyadari bahwa tidak mungkinlah menyatakan ketidakmampuan kita untuk menyatakan.
Relativisme protagoras mungkin merupakan pendapat skeptik yang paling ekstem. Doktrin “homo mesura”-nya (manusia adalah ukuran bagi segalanya) merupakan usah untuk membatasi semua pernyataan kepada orang yang membuatnya sebagaimana apa yang terasa enak bagi seseorang tidak tentu enak bagi yang lain. Katanya, demikian juga mengenai apa yang benar bagi yang lain.
Aliran keraguan (Academy Doubt)
Suatu aliran yang dalam perolehan ilmu pengetahuan berpangkal dari keraguan sebagai jembatan perantara menuju kepada kepastian.
Empirisme
Cara pencarian ilmu pengetahuan melalui panca indra, karena indra tersebut yang menjadi instrumen untuk menghubungkan ke alam.
Rasionalisme
Suatu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan akal pikiran, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.
Aliran yang menggabungkan pendekatan empiris dan rasionalisme
Menurut aliran ini cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu melalui pengertian dan pengindraan, karena pengertian tidak dapat melihat dan indra tidak dapat berpikir, sehingga rasio dan indra perlu disatukan.
Intuisi
Suatu pendekatan dalam memperoleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan daya jiwa.
Wahyu
Pendekatan ini bersifat metafisik dan bercirikan transendental. Pendekatan ini harus didasari oleh kepercayaan (iman). Kepercayaan tersebut adalah apabila akal tidak mampu mengungkapkan sesuatu, akal tersebut tidak perlu dibahas dan diperdebatkan, wahyu berarti isyarat yang cepat yang diperoleh seseorang di dalam dirinya serta diyakininya.
Dalam pandangan filsafat pendidikan Islam metode memperoleh ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:
Kasbi (khusuli)
Kasbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan.
Laduni (khudluri)
Laduni adalah ilmu yang diperoleh oleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan atau oleh hadirnya cahaya ilahi ke dalam kalbu seseorang.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam dunia pendidikan dianggap sebagai proses penyerahan kebudayaan umumnya dan khususnya ilmu pengetahuan, maka dari itu epistemologi dalam dunia pendidikan adalah memberikan suatu kebenaran yang jelas, sehingga terjamin kebenaran dan percaya apa yang disampaikan oleh seorang guru yang didasarkan pada fakta-fakta yang ada dalam lingkungan kita.
Filsafat pengetahuan merupakan usaha untuk membiarkan pikiran untuk mencapai pengenalan dan esensinya, usaha pikiran untuk mengekspresikan dan menunjukkan kepada dirinya sendiri atas epistemologi berhubungan dengan dasar pertimbangan kodrat, jangkauan dan asal dari evidensi.
Ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia ini dan untuk memperolehnya perlu dilakukan usaha dan kerja keras. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia ia akan dapat mengenal adanya Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Hadi. P. Hardono. 1994. Epistemologi Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Khobir, Abdul. 2008. Filsafat Pendidikan Islam Landasan Teoritis dan Praktis. Yogyakarta.
Gama Media Offset.
Latif Mukhtar. 2014. Orientasi Ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta : Prenadimedia
Noor Syam Mohammad. 1988. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila.
Surabaya: Usaha Nasional.
Comments
Post a Comment