Perbedaan Filsafat Islam dan Barat

Filsafat Islam dan Filsafat Barat
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah    : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Fuad Al-Amin

Disusun oleh:

 M. Atho’ul Maula                                      (2117228)
 Mohammad Syarifudin  (2117263)
Muhammad Hafidzudin                            (2117275)
Khozim Maksalena (2117312)

Kelas: G

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berawal dari ketertarikan Penulis terhadap materi yang diberikan dosen pengampu mata kuliah Filsafat Islam yang membahas mengenai perbedaan-perbedaan antara Filsafat Islam dan Filsafat Barat.
Juga dikarenakan kewajiban yang diberikan dosen pengampu mata kuliah filsafat Islam yang mewajibkan setiap mahasiswanya mengerjakan makalah yang telah dibagi sesuai dengan bab masing-masing yang telah dibagikan. Dan kali ini penulis memaparkan sedikitnya mengenai berbagai perbedaan Filsafat Islam dan Filsafat Barat yang diawali dari mengetahui pengertian filsafat itu sendiri terlebih dahulu kemudian dilanjut mengenai sekilas info mengenai filsafat Islam dan Barat, baru kemudian ke materi inti yaitu perbedaan antara Filsafat Islam dan Filsafat Barat.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian filsafat?
2. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Islam ?
3. Bagaimana sejarah atau sekilas info mengenai filsafat barat
4. Apa saja perbedaan antara filsafat Islam dan filsafat barat
Tujuan
1. Mengetahui pengertian filsafat
2. Mengetahui apa itu filsafat islam
3. Mengetahui sekilas info mengenai filsafat barat
4. Mengetahui perbedaan antara filsafat Islam dan filsafat barat.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat
             Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa yunani yang bersumber dari akar kata pilos (cinta) dan shopos (kebijaksanaan), tahu secara mendalam, hikmah.Dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah mencintai kebijaksanaan. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang bijaksana.(1)
Dalam pengertian lebih luas, Harold Titus mengemukakan pengertian filsafat sebagai berikut:
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara kritis.
2. Filsafat ialah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi.
3. Filsafat ialah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan tentang sesuatu.(2)
B. Sekilas Tentang Filsafat Islam
               Filsafat islam merupakan gabungan dari filsafat dan islam. Menurut mustofa Abdur Rozik, filsafat islam adalah filsafat yang tumbuh di negeri islam dan di bawah naungan negeri islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya. Pengertian ini diperkuat oleh prof Tara Chand, bahwa orang-orang nasrani dan yahudi yang telah menulis kitab-kitab filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh islam sebaiknya dimasukkan ke dalam filsafat islam.Dr. Ibrahim Madzkur mengatakan filsafat arab bukanlah berarti bahwa ia adalah produk suatu rasa tau umat. Meskipun demikian, saya mengutamakan menamakanya filsafat islam, karena islam bukan akidah saja, tetapi juga sebagai peradaban.setiap peradaban mempunyai kehidupannya sendiri dalam aspek moral, material, intelektual dan emosional. Dengan demikian, filsafat islam mencakup seluruh studi filosofis yang ditulis di bumi islam, apakah ia hasil karya orang-orang islam atau orang-orang nasrani ataupun orang-orang yahudi.
              Filsafat islam meneliti probelmatika yang satu dengan yang banyak, yakni menyalesaikan korelasi antara Allah dengan para makhluknya sebagai problematika yang menyulut perdebatan panjang dikalangan Mutaklimin. Filsafat islam berupaya memadukan antara wahyu dengan akal. Antara akidah dengan hikmah. Antara agama dengan filsafat dan berusaha menjelaskan kepada manusia bahwa:
a. Wahyu tidak bertentangan dengan akal
b. Akidah jika di terangi dengan sinar filsafat akan menetap didalam jiwa dan akan kokoh dihadapan lawan.
c. Agama jika bersaudara dengan filsafat akan menjadi filosofis sebagimana filsafat menjadi religious, karena filsafat islam di lahirkan oleh lingkungan dimana ia hidup dan tidak telepas dari kondisi yang melingkupinya. Maka filsafat islam sebagai mana yang Nampak adalah filsafat religioussperitual. Bahwa Tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan nakal(wahyu/sunnah) untuk dia. Dengan akal itu ia membentuk pengetahuan. Apabila pengetahuan manusia itu di gerakkan oleh nakal, menjadilah ia filsafat islam. Wahyu dan sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan kebenaranya dengan riset, filsafat islamlah yang memberikan keterangan, ulasan dan tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal dan umum.Keunggulan khusus bagi filsafat islam dalam masalah pembagian cabang-cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun falak yang semuanya menjadi cabang filsafat islam. Sehingga hal ini menjadi nilai lebih bagi filsafat islam. Dengan demikian filsafat islam secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu yang mandiri. Walaupun hasil juga ditemukan keidentikan dengan pemandangan orang yunani (Aristoteles) dalam masalah teori tentang pembagian filsafat oleh filosuf-filosuf islam.(3)
Aliran-aliran dalam filsafat Islam :
1) Aliran Peripatetik
               Istilah “peripatetik” dijelaskan Mulyadhi merujuk pada kebiasaan Aristoteles dalam mengajarkan filsafatnya kepada murid-muridnya. Peripatetik (masya'un) berarti “ia yang berjalan memutar dan berkeliling”. Ini merujuk pada kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi murid-muridnya ketika ia mengajarkan filsafat. Beberapa filosof yang dikategorikan dalam aliran ini, yaitu al- Kindi (w.+ 866), al-Farabi (w, 950), Ibn Sina (w. 1037), Ibn Rusyd (w. 1196) dan Nashir al-Din Thusi (w. 1274).
2) Aliran lluminasionis (isyraqi)
             Aliran lluminasionis didirikan oleh pemikir Iran, Suhrawardi al-Maqtul (w. 1911), ide-idenya mengenai illuminasionis dituangkan dalam Kitab Hikmah al-lsyraq. Berbeda dengan peripatetik, yang lebih menekankan penalaran rasional sebagai metode berfikir dan pencari kebenaran, filsafat llluminasionis mencoba memberikan tempat yang penting bagi metode intuitif, sebagai pendamping atau malah menjadi dasar bagi penalaran rasional.
3) Aliran 'Irfani (tasawwuf)
              Aliran ‘Irfani atau juga disebut dengan tasawwuf sering tidak dikategorikan ke dalam aliran filsafat. Karena, sementara filsafat bertumpu dalam kegiatannya pada penalaran rasional, tasawwuf bertumpu pada pengalaman mistik yang bersifat supra-rasional. Tetapi dalam perkembangan filsafat pasca- Ibn Rusyd, tasawwufsemakin tidak bisa dipisahkan dari filsafat. Seperti dikatakan oleh Ibnu Khaldun, baik teologi (ilmu kalam) maupun tasawwuf, pada masanya telah bercampur sedemikian rupa dengan persoalan- persoalan filsafat. Sifat aliran 'irfani sebagaimana karakter sufi, lebih mengedepankan intuitif atau yang mereka sebut dengan “hati”. Sayangnya aliran ini lebih didominasioleh penalaran intuitif dan sangat meminimalisir penggunaan penalaran akal.
4) Aliran Hikmah Muta'aliyyah
             Aliran filsafat hikmah muta'aliyyah, diwakili oleh seorang filosof Syi’ah abad ketujuh belas, Shadr al-Din al-Syirazi (w. 1641), yang lebih dikenal dengan nama Mulia Shadra. Mulia Shadra adalah seorang filosof yang berhasil mensintesiskan tiga aliran pemikiran, peripatetik, iluminasi dan 'irfani. Dari sudut epistemologis, aliran hikmah muta'aliyah tidak terlalu jauh berbeda dari aliran illuminasionis, seperti iluminasionis, filsafat hilmah juga percaya bukan hanya pada akal diskursif tetapi juga pada pengalaman mistik. Namun lebih dari itu, filsafat hikmah menekankan bahwa pengalaman mistik bukan hanya “mungkin” untuk diungkapkan secara diskursif-logis, melainkan harus diungkapkan seperti itu untuk keperluan verifikasi publik.(4)
C. Sekilas Tentang Filsafat Barat
                 Mempelajari filsafat barat tidak lepas dari arah pembicaraan filsafat secara histories, yaitu kajian yang ditinjau dari sejarah. Ini dapat dilakukan dengan cara membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya, maupun pokok-pokok pikiran dan ajarannya. Mempelajari filsafat barat dapat pula dengan membagi periode sejarah filsafat menjadi tiga bagian yaitu, filsafat kuno (ancient philosophy), filsafat abad pertengahan (middle philosophy) dan filsafat abad modern (modern philosophy).
Ada tiga hal penting dalam kajian manusia sebagai bagian dari peradaban filsafat yaitu, indera, akal, dan hati. Yang dimaksud akal di sini adalah akal yang logis dan rasional, sedangkan hati adalah rasa. Akal itulah yang menghasilkan filsafat, sedangkan hati menghasilkan pengetahuan supralogis yang disebut pengetahuan mistik; iman termasuk di sini. Perseteruan antara akal dan hati, rasio dan iman antara filsafat dan agama selalu melatarbelakangi perkembangan budaya manusia hingga sekarang. Namun secara umum ciri filsafat Yunani adalah rasionalisme.(5)
1. Zaman Yunani Kuno
               Tokoh-tokohnya yang populer antara lain Thales, Phytagoras, Socrates, Democritus, Plato, Aristoteles. Kurang lebih 300 tahun sejak meninggalnya Socrates pada masa helenisme di ujung tarikh Masehi, menjelang neo-Platonisme, filsafat semakin berkurang dominasinya. Pada Abad Pertengahan agama yang menang mutlak, akal kalah total. (6)
2. Abad Pertengahan
              Abad pertengahan dimulai sejak Plotinus (204-270 M), pengaruh agama Kristen semakin besar; filsafatnya bersifat spiritual. Dia adalah filosuf pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Teorinya yang sangat terkenal yaitu tentang emanasi (melimpah), yang merupakan jawaban pertanyaan Thales; apa bahan alam semesta ini, Plotinus menjawab: bahannya Tuhan. Ajaran Plotinus disebut Plotinisme atau neo-Platonisme karena erat dengan ajaran Plato yang teosentris. Tujuan filsafat plotinus adalah tercapainya kebersatuan dengan Tuhan. Caranya mengenal alam melalui indera dengan ini akan mengenal keagungan Tuhan, kemudian menuju jiwa dunia setelah itu menuju jiwa Ilahi. (7)
3. Zaman Modern
               Pada dasarnya corak filsafat modern mengambil warna pemikiran filsafat sofisme Yunani, paham-paham yang muncul garis besarnya rasionalisme, idealisme, empirisme dan paham-paham yang merupakan pecahan itu. Sebelumnya didahului dengan masa renaissance, yaitu menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain. Paham rasionalisme mengajarkan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting sebagai pendukung rasionalisme: Descartes, Spinoza dan Leibniz.
Descartes (1596-1650) membawa metode cogito-nya (aku berpikir). Pengetahuan yang clear and distinct (jelas dan pasti) pada descartes ini diambil Spinoza dengan nama adequate ideas, dan pada Leibniz truths of reason. Oleh karena itu konsep sentral dalam metafisika Descartes adalah substansi dan definisi, yang sesungguhnya sudah ada pada Aristoteles. Bahwa sesuatu untuk ada tidak memerlukan yang lain (bila adanya karena yang lain, berarti substansinya kurang meyakinkan).(8)
D. Perbedaan Filsafat Barat dan Filsafat Islam
1. Filsafat Barat
               Perlu didudukan terlebih dahulu, bahwa penyebutan “barat” disini bukan dimaknai berdasarkan letak geografisnya, kanada itu di utara Australia di selatan tapi digolongkan sebagai negara barat. Begitu juga dengan Negara-negara lain yang disebut Negara barat, meskipun letak geografisnya tidak di barat atau bahkan malah berseberangan.
Menurut Hamid Fahmi Zarkasyi, barat sebenarnya mencerminkan sebuah pandangan hidup atau suatu peradaban dan terkadang ras kulit putih. Pandangan hidup (world view) barat merupakan kombinasi dari Yunani, Romawi, tradisi bangsa-bangsa Jerman, Inggris, Perancis, Celtic, dan sebagainya. Kalau melihat sejarah, world view barat modern itu, kata Hamid, adalah scientific world view ( pandangan hidup keilmuan). Artinya cara pandang terhadap alam ini melulu saintific dan tidak lagi religious, ciri world view yang saintific itu tercermin dari berkembangnya paham-paham seperti empirisme, rasionalisme, dualism atau dikotomi, sekularisme, desaklarisasi, pragmatism, dan sebagainya. Paham-paham itu semua otomatis meminggirkan (memarginalkan) agama dari peradaban barat.
            Dari penerangan di atas kita bisa memberikan deskripsi sederhana tentang filsafat barat. Jadi, filsafat barat merupakan cara berpikir filsafat dengan berasas pada pandangan hidup (world view) atau peradaban(culture) yang dianut oleh bangsa-bangsa barat. Filsafat semacam ini merupakan filsafat yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah jajahan mereka.  Permulaan dari sebutan filsafat barat ini dari keinginan untuk mengarah pada pemikiran atau falsafah peradaban barat.(9)
             Dari penerangan Hamid Fahmi Zarkasyi juga, kita dapat menerka corak berpikir filsafat berasaskan world viewn barat, bahwa metode berpikir filsafat yang mereka pakai adalah empiris-rasionalis. Mereka menyampingkan hal-hal yang sifatnya agama (secular), yang kemudian berimbas pada sikap mereka yang tidak mengakui wahyu sebagai ilmu. Dalam pandangan mereka, ilmu pengetahuan hanya bisa didapat dari hal-hal yang bisa diinderai (empiris) dan masuk diakal (rasional). Mereka cenderung berpikir dan berspekulasi terhadap segala sesuatu dengan bebas sebebas-bebasnya, termasuk bebas dari dogma, kepercayaan, dan agama, yang mereka anggap sebagai pengekang kegiatan berpikir.
2. Filsafat Islam
             Islam merupakan kata yang diambil dari bahasa Arab yang biasa diartikan “tunduk patuh” atau berserah diri. Secara umum, berpikir kefilsafatan ala Islam sama dengan berpikir menggunakan metode filsafat lainnya. Namun perbedaan menonjol antara keduanya terletak pada pandangan masing-masing terhadap wahyu sebagai ilmu. Islam dikubu pro-wahyu sebagai ilmu , sedangkan barat sebagaimana telah disinggung berada pada posisi kontra terhadap wahyu. Islam dengan sifat kepatuhannya terhadap aturan agama, tentu tidak menerapkan kegiatan berpikir sebebas-bebasnya  seperti metode berpikir filsafat barat, karena sikap bebas itu sendiri bertentangan dengan nama Islam yang berarti “tunduk patuh”, bukan bebas tanpa batasan, dalam artian boleh berpikir bebas dengan batasan aturan-aturan agama.
Berikut ini karakteristik dari Filsafat Islam :
1. Landasan berpikir
Bukan hanya dalil rasional, tetapi juga berdasarkan dalil-dalil wahyu yaitu al-qur’an dan hadits.
2. Sistem analisis
Filsafat Islam tidak hanya berprinsip rasional, tetapi juga spiritual.
3. Subjek Pengkaji
Subjek pengkaji berasal dari filosof muslim, artinya kajian filsafat ini dilakukan oleh orang Islam.
4. Objek yang dikaji
Meliputi fisik dan metafisik.(10)








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari isi makalah kita dapat menarik kesimpulan bahwa perbedaan filsafat Islam dan filsafat barat adalah terletak pada pro dan kontra nya terhadap wahyu. Filsafat islam mempercayai adanya wahyu atau pro terhadap wahyu, sedangkan filsafat barat tidak mempercayai adanya wahyu atau dalam kata lain “kontra terhadap wahyu”. Filsafat barat hanya menggunakan rasional atau akal saja sedangkan filsafat Islam selain mengedepankan aspek rasio atau akal tetapi juga mementingkan aspek spiritual. Kemudian filsafat barat dalam berfilsafat itu boleh bebas sebebas-bebasnya sedangkan dalam filsafat Islam dibatasi oleh norma-norma agama.
Saran
Mengambil hikmah dari makalah diharapkan penulis sendiri pada khususnya dan pembaca pada umumnya dapat berfilsafat dengan masih mementingkan norma-norma agama, agar tidak tersesat dengan berfilsafat sebebas-bebasnya tanpa melihat adanya norma agama.











DAFTAR PUSTAKA

Gholib, Achmad. 2009. Filsafat Islam. Jakarta: Faza Media.
Harisah, Afifuddin. 2018.  Filsafat Pendidikan Islam Prinsip dan Dasar
Pengembangan.Yogyakarta: Deepublish.
Ibrahim. 2016. Filsafat Islam Masa Awal. Makassar: Carabaca.
Luluk Nur Faizah. 2017 “Filsafat Islam dan Hubungannya dengan Filsafat Masehi,
Yunani, dan Modern,”.Jombang: Jurnal Al-Makrifat, 2: 2.
Zarkasyi, Hamid Fahmi. 2012. Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam.
Jakarta: INSISTS-MIUMI.


Foot note :


1. Ibrahim, Filsafat Islam Masa Awal, (Makassar: Carabaca, Januari 2016), h. 1
2. Afifuddin Harisah, Filsafat Pendidikan Islam Prinsip dan Dasar Pengembangan, (Yogyakarta: Deepublish, April 2018), h. 1
3. Luluk Nur Faizah, “Filsafat Islam dan Hubungannya dengan Filsafat Masehi, Yunani, dan Modern,” Jurnal Al-Makrifat, 2: 2, (Jombang, Oktober 2017), h. 4-6.
4. Achmad Gholib, Filsafat Islam, ( Jakarta: Faza Media, 2009), h. 60-64.
5. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Rhosda Karya, 2008),h. 47.
6. Ahmad Tafsir, Ibid., h. 65.
7. Ahmad Tafsir, Ibid., h. 74.
8. Ahmad Tafsir, Ibid., h. 142
9. Hamid Fahmi Zarkasyi, Refleksi Tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam, (Jakarta: INSISTS-MIUMI, Oktober 2012), h. 86-87
10. Ahmad Gholib, op.cit., h. 55-58

Comments